Menatap senja,
Menaruh harapan ada sosok
cammani mani,
labungko bungko,
la bolong,
lompo golo,
nampak di sana.
Aku tak percaya, mereka tak nampak
Tak memberi setetes tanda kehidupannya.
Dimana dirimu?
Apakah kalian sedang asyik bercanda bersama sang bidadari di balik sunseet?
ataukah dirimu telah terkubur di dasar jurang bulu Ganting?
Ataukah dirimu sedang menertawaiku di atas helai daun. Tertawa bersama burung cui cui?
Ahh....
Aku tak peduli.
Aku akan tetap menunggu sampai dirimu datang menyapa.
Aku tak peduli sinar mentari menghilang di telang kegelapan.
Aku tak peduli dirimu telah terkubur, tertimbung dalam tanah.
Aku..
Iya aku.
Aku akan tetap disini menunggumu.
Aku berharap jika matahari kembali menyapaku,
Dirimu bersamanya.
Aku berharap tawamu bersama cui cui
Melihat kaki yang berdarah
Berjalan mendaki gunung Bonto Pao
Menyeberangi laut samboang.
Aku tak akan pulang,
Sebelum matamu dan mataku saling menatap
Aku rela,
Menunggu hingga akhir hayat.
Aku rela penantianku jadi sejarah dalam pencarian jejak dirimu.
Kajang,02/07/15
Tak memberi setetes tanda kehidupannya.
Dimana dirimu?
Apakah kalian sedang asyik bercanda bersama sang bidadari di balik sunseet?
ataukah dirimu telah terkubur di dasar jurang bulu Ganting?
Ataukah dirimu sedang menertawaiku di atas helai daun. Tertawa bersama burung cui cui?
Ahh....
Aku tak peduli.
Aku akan tetap menunggu sampai dirimu datang menyapa.
Aku tak peduli sinar mentari menghilang di telang kegelapan.
Aku tak peduli dirimu telah terkubur, tertimbung dalam tanah.
Aku..
Iya aku.
Aku akan tetap disini menunggumu.
Aku berharap jika matahari kembali menyapaku,
Dirimu bersamanya.
Aku berharap tawamu bersama cui cui
Melihat kaki yang berdarah
Berjalan mendaki gunung Bonto Pao
Menyeberangi laut samboang.
Aku tak akan pulang,
Sebelum matamu dan mataku saling menatap
Aku rela,
Menunggu hingga akhir hayat.
Aku rela penantianku jadi sejarah dalam pencarian jejak dirimu.
Kajang,02/07/15


Tidak ada komentar:
Posting Komentar