Rabu, 01 Juli 2015

SOSIAL POLITIK

BERITA DARI ANAK PADI

Assalamu Alaikum
Duhai sang penguasa
Lagi lagi kami datang
Dari tanah tua kajang
Mengetuk pintu jabatan kebangganmu
Membawa berita kelaparan
Dari perut busung anak tani
Membawa bingkai hadiah
Penolakan dari visimu

Jangan membanting dan menutup pintu
Saudara di pilih bukan di lelang
Meski kami tak kenal saudara
Tapi kami tak takut menyuarakan kehebatan saudara
Saudara duduk di kursi bersafari dan berdiskusi di gedung DPR
Di lidah dan hatimu kami menggantung harapan
Untukmu yang duduk di kursi
Untukmu yang biasa bersafari di sana
Di gedung DPR
Di lidah dan hatimu
Kami menggantung
Jangan diam,
bicaralah
Teriak sekeras mungkin
Kami rindu suaramu
Dikala saudara melontarkan janji
Jangan tertidur,
bangunlah
Berlari sekencang mungkin
Kami rindu semangat saudara
Di kala saudara nyalon DPR
Jangan tutup telinga,
dengarkanlah pasang kuping baik-baik,
Kami rindu telinga saudara,
Dikala saudara meminta kami bicara soal mimpi jika saudara terpilih
Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Saring janji sebelum di janjikan
Jika janji itu sebatas janji palsu
Ini bukan penolakan
Hanya perlawanan dari ketidak adilan
Jika benar saudara untuk rakyat
Mengapa jua saudara menjadi musuh bagi kami
Ini bukan dusta,
Tapi realitas. Realitas dari sikapmu yang sangat mahir bermain dusta Mendustai kami demi merampas masa depan.
Saudara tidak kala
Dengan Superman, pandai terbang membawa menjanji. Janji busuk penuh noda Di luar berbau wangi
Di luar berbau busuk
Tok..tok..tok...
Jangan takut saudara,
Mengapa saudara bergetar melihat kedatangan kami
Kami hanya datang menagih janji
Sebab janji adalah utang
Jangan menganggap kami musuh
Kami saudara duhai sang penguasa
Saudara dalam ikatan cita_cita luhur pancasila.
Kajang,01/07/15

DENGARLAH KAMI (suara anak jalanan dari Desa)
Saat-saat kaki terlangkahkan
Sejenak hati berfikir tentang keadilan
Ketika bangsa dilanda bencana
Ketika rakyat kecil dirundung duka
Ketika semua orang berharap tanya
Mana yang benar dan mana yang salah ?!
Banyak sosok muncul seolah pakar
Berteriak-teriak seakan benar
Seharusnya begini dan seharusnya begitu !!
Ternyata semua hanya teori membingungkan
Di sudut-sudut kota dan pelosok negeri
Rakyat jelata menggeliat kelaparan
Anak-anak mulai putus harapan
Akan kemana kami mencari
Napas kebebsan yang semakin sesak
Angin kehidupan yang mulai hilang
Sungguh tragis dan ironis
Rupiah terpuruk dalam kekhawatiran
Si awam hanya bertanya
Dosa siapakah ini ?!
Kok kami yang mendapat siksa
Kami tidak perlu banyak partai,
Kami tak perlu banyak pemerintah,
Yang kami butuhkan tempat ibadah,
Tempat menuntut ilmu,
Sayang, itu adalah mimpi buruk bagi kami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar