Sabtu, 04 Juli 2015

SABDA KAJANG

JANGAN BUNUH KAMI
Kami bernyanyi bersama CUI_CUI DIDI
Melantunkan KELONG BASING
Iringan suara PALINGORO
KELONG JAGA
Air sumur BENTENG mengalir deras
Di antara lebatnya BORONG TOMBOLO
Tertawa girang makan DUMPI EJA di atas TIDE
Main lumpur bersama kerbau di tengah sawah
Menunggu suara CARRA CARRA
Di kala petang tiba

Terang SULO SAPIRI
Menembus celah celah lantai DASERE
Menunggu ANRONG AMMANGKU
Menghampiri tubuh mungil
Terbungkus TOPE LEQLENG
Mengisahkan CAMMANI MANI
Pengantar tidur ke alam mimpi
Cukup indah dan berwarna hidup kami
Bermain dan bernyanyi dalam landasan PASANG KAMASE MASE
Tuan.....
Jangan bunuh kami,
Kami bukan virus negara
Pembawa sakit cita cita proklamasi
Kami bukan harimau
Pembawa rasa takut untuk negara
Kami bukan nyamuk
Penghisap harta laknatullah
Biarkan kami hidup
Menghidupkan PASANG RI KAJANG
Sebab, kami anakmu
Pemegang tongkat estafet negara.
Kajang,03/07/15

Kamis, 02 Juli 2015

RUPAMA KAJANG

JEJAK RUPAMA KAJANG

Menatap senja,
Menaruh harapan ada sosok
cammani mani,
labungko bungko,
la bolong,
lompo golo,
nampak di sana.

Aku tak percaya, mereka tak nampak
Tak memberi setetes tanda kehidupannya.
Dimana dirimu?
Apakah kalian sedang asyik bercanda bersama sang bidadari di balik sunseet?
ataukah dirimu telah terkubur di dasar jurang bulu Ganting?
Ataukah dirimu sedang menertawaiku di atas helai daun. Tertawa bersama burung cui cui?
Ahh....
Aku tak peduli.
Aku akan tetap menunggu sampai dirimu datang menyapa.
Aku tak peduli sinar mentari menghilang di telang kegelapan.
Aku tak peduli dirimu telah terkubur, tertimbung dalam tanah.
Aku..
Iya aku.
Aku akan tetap disini menunggumu.
Aku berharap jika matahari kembali menyapaku,
Dirimu bersamanya.
Aku berharap tawamu bersama cui cui
Melihat kaki yang berdarah
Berjalan mendaki gunung Bonto Pao
Menyeberangi laut samboang.
Aku tak akan pulang,
Sebelum matamu dan mataku saling menatap
Aku rela,
Menunggu hingga akhir hayat.
Aku rela penantianku jadi sejarah dalam pencarian jejak dirimu.
Kajang,02/07/15

Rabu, 01 Juli 2015

SYAIR CINTA

TUGU CINTA
Begitu payah lenyapkan rindu
padamu yang selalu ada
biar ingin melupuskan semua
tak pernah dapat kumungkiri
luapan hati sendiri.

Semalam kutemui lagi dia
membongkar lagi bicara lama
tak berdaya untuk ku sembunyikan wajah
untuk tidak berlaku jujur
bila cinta tak pernah berkubur
segalanya menjadi mungkin
tak kan mungkin dapat berpaling
bila kau sentiasa ada
di sudut hatiku yang tersendiri.
Aku menjadi tersangat rindu
memelukmu didalam angan
mementerai janji setia
yang pernah kubina dulu
meskipun istana kau robohkan
tetap teguh dalam kenangan
menjadi tugu cinta
tersergam indah.
Takkan mungkin tersingkir
degup rasa yang bergelora
begitu dekat adanya
meski tak pernah kurasa
ada cinta di sudut hatimu
tetap kurela
bermain api membakar diri
bila rentung jiwa memberi bahagia .
Kajang, 28/06/15

BUDAYA

KELONG ATI TANGNGA BANGNGI

Tangnga bangngi ku timba anna bolaku
Lingka sulu' ri dallekang lego lego
Sisabbu rannu timbo lalang ati Saile nai ri maddolangan langi'
Lallo tangnga sassang cappe laninring Laku itte bintoeng tabbilla taggentung rate langi
Dabbung atingku sipaddabungang ere mata
Lantemi pangngitteku nai_ricappa langi',
Sassang sangngi sassang tala rie kasinarrang Antere'ko mae bintoeng
Bintoeng pangngainna atingku
Lanynya sikalanynyakkang bulang
Manna tere mae Manna limbang balleang tamparang
Dakka lalang bulu'na bonto pao Laku tajangji kalennu
Lambbattuia ri ele lohe Tabbilla' mako mae
Sisinarri paqmaekku paqmae bulaengna karaengnu
Kiringmi mae sinaraqnu
Laku dongkoki nai ri kalennu
Angngerang passunrang surona anrongku ambunting bajiki kalennu
Baji simbaji bulaeng Bulaeng tamma pinra lino akhere,
Kajang, 30/06/15

SOSIAL POLITIK

BERITA DARI ANAK PADI

Assalamu Alaikum
Duhai sang penguasa
Lagi lagi kami datang
Dari tanah tua kajang
Mengetuk pintu jabatan kebangganmu
Membawa berita kelaparan
Dari perut busung anak tani
Membawa bingkai hadiah
Penolakan dari visimu

Jangan membanting dan menutup pintu
Saudara di pilih bukan di lelang
Meski kami tak kenal saudara
Tapi kami tak takut menyuarakan kehebatan saudara
Saudara duduk di kursi bersafari dan berdiskusi di gedung DPR
Di lidah dan hatimu kami menggantung harapan
Untukmu yang duduk di kursi
Untukmu yang biasa bersafari di sana
Di gedung DPR
Di lidah dan hatimu
Kami menggantung
Jangan diam,
bicaralah
Teriak sekeras mungkin
Kami rindu suaramu
Dikala saudara melontarkan janji
Jangan tertidur,
bangunlah
Berlari sekencang mungkin
Kami rindu semangat saudara
Di kala saudara nyalon DPR
Jangan tutup telinga,
dengarkanlah pasang kuping baik-baik,
Kami rindu telinga saudara,
Dikala saudara meminta kami bicara soal mimpi jika saudara terpilih
Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Saring janji sebelum di janjikan
Jika janji itu sebatas janji palsu
Ini bukan penolakan
Hanya perlawanan dari ketidak adilan
Jika benar saudara untuk rakyat
Mengapa jua saudara menjadi musuh bagi kami
Ini bukan dusta,
Tapi realitas. Realitas dari sikapmu yang sangat mahir bermain dusta Mendustai kami demi merampas masa depan.
Saudara tidak kala
Dengan Superman, pandai terbang membawa menjanji. Janji busuk penuh noda Di luar berbau wangi
Di luar berbau busuk
Tok..tok..tok...
Jangan takut saudara,
Mengapa saudara bergetar melihat kedatangan kami
Kami hanya datang menagih janji
Sebab janji adalah utang
Jangan menganggap kami musuh
Kami saudara duhai sang penguasa
Saudara dalam ikatan cita_cita luhur pancasila.
Kajang,01/07/15

DENGARLAH KAMI (suara anak jalanan dari Desa)
Saat-saat kaki terlangkahkan
Sejenak hati berfikir tentang keadilan
Ketika bangsa dilanda bencana
Ketika rakyat kecil dirundung duka
Ketika semua orang berharap tanya
Mana yang benar dan mana yang salah ?!
Banyak sosok muncul seolah pakar
Berteriak-teriak seakan benar
Seharusnya begini dan seharusnya begitu !!
Ternyata semua hanya teori membingungkan
Di sudut-sudut kota dan pelosok negeri
Rakyat jelata menggeliat kelaparan
Anak-anak mulai putus harapan
Akan kemana kami mencari
Napas kebebsan yang semakin sesak
Angin kehidupan yang mulai hilang
Sungguh tragis dan ironis
Rupiah terpuruk dalam kekhawatiran
Si awam hanya bertanya
Dosa siapakah ini ?!
Kok kami yang mendapat siksa
Kami tidak perlu banyak partai,
Kami tak perlu banyak pemerintah,
Yang kami butuhkan tempat ibadah,
Tempat menuntut ilmu,
Sayang, itu adalah mimpi buruk bagi kami.